Showing posts with label Sastra ala Hepi. Show all posts
Showing posts with label Sastra ala Hepi. Show all posts

Sunday, April 22, 2012

Ini tentang Kita, Kawan





Hari ini, aku bertemu dengan seorang kawan di kelas ujian. Namanya, Linda. Dia sepertiku, berkerudung dan berjilbab panjang. Aku tak tahu kecocokan apa yang ada pada diri kami, yang jelas, kami langsung merasa klop ketika kami melakukan diskusi mengenai suatu hal.





Itu pula yang terjadi pada hari ini. Dia menceritakan padaku tentang ‘fenomena’ yang terjadi di sekitar kami. Aku sadar, kami adalah tipe anak yang tidak terlalu peka, maka dari itu kami butuh sharing untuk melatih kepekaan kami.





Tadi, aku menceritakan padanya, bahwa pernah terlintas di pikiranku bila aku ingin mencoba menjadi orang lain. Bergabung dengan bagian grup lain, tertawa, atau melakukan kegiatan apapun yang sangat menyenangkan. Mungkin, menjadi ‘mereka’ itu adalah hal yang banyak diimpikan orang lain. Namun, tidak dengannya, Linda.





Linda mengatakan padaku, bahwa dia pernah pula menginginkan hal seperti itu. Tapi, itu dulu. Saat dia tidak terlalu mengenal siapa ‘mereka’. Sedikit curiga, aku pun menanyakan alasan jawabannya itu.





Dia mengatakan padaku, bahwa tawa yang mereka suguhkan tak lebih dari kepalsuan. Memang terlihat begitu menggiurkan dari permukaannya. Namun, bila melihat lebih dalam, mereka tak lebih dari pemakan saudaranya sendiri. Membicarakan kawan sendiri di belakang, tapi sangat baik di depan.





Kejadian seperti itu, pernah kulihat sendiri. Ini kisah seorang kawan. Dia, teman baikku, Sania. Dulu, ia pernah mendapat fitnah oleh seorang kawanku. Tapi, aku tak tahu pasti dari mana sumber itu yang jelas, kejadian itu benar-benar menjadi pelajaran berharga untuk siapapun: ‘Fitnah itu bagaikan memakan bangkai saudaranya sendiri’.





Aku tak tahu pasti apa yang harus kulakukan. Kawanku, bukan Sania ataupun Linda, mengatakan padaku tentang apa yang terjadi pada Sania. Aku terhenyak sesaat ketika kudengar kabar itu. Pasalnya, kabar itu sungguh sudah beredar luas. Aku pun tak berani menanyakannya pada Sania perihal itu.





Dalam hati, aku berpikir, ‘Apa Sania sudah tak lagi percaya padaku? Hingga ia tak menceritakan apa yang menimpanya pada sahabatnya sendiri?’. Aku sempat sedikit kecewa padanya.





Batinku terus mengganjal semenjak kawan-kawanku terus saja membicarakan Sania saat dia tak sedang bersama kami. Tapi, saat Sania bersama kami, tawa kami lepas atau mungkin lepas yang dipaksakan? Entahlah. Yang jelas, ketika Sania bersama kami, yang menjadi topik pembicaraan adalah kawan kami yang lain, bukan Sania ataupun Linda. Ah!





Aku menanyakan pada pikiranku, ‘Mungkin, aku pernah berada di posisi Sania. Saat orang yang menurutku adalah teman baik, namun di belakangku dia bagaikan musuh dalam selimut. Tapi, aku tak tahu siapa mereka.’





Ya, aku pasti pernah berada dalam posisi Sania. Menjadi topik pembicaraan, namun siapapun yang membicarakanku tetap dalam mimik mukanya yang tersenyum dengan ceria. Oh, Tuhan.





Satu hal yang kupelajari hari ini adalah: ‘Jangan lepaskan teman sejati kita. Karena melepaskannya akan sangat mudah, namun kita tak akan tahu kapan kita bisa mendapatkan sahabat sejati yang bisa menerima kita apadanya. Atau mungkin, dialah teman terbaik yang telah Tuhan turunkan untuk kita.’







ruang ujian, 19 April 2012





***





Aku pasti akan merindukan saat-saat ini.


Ketika kita bersama.


Tertawa. 


Sedih. 


Ataupun ketika kita saling membicarakan pria yang saling kita sayangi.


Terimakasih untuk semua kenangan yang pernah ada.


Terimakasih untuk pahatan indah yang tak akan pernah terlupa.





Special for my friends


SMA Taruna Dra. Zulaeha


angkatan 2011/2012





Semoga kita diberi kelulusan 100% dengan nilai terbaik dari Allah S.W.T.


AMIIIN YA ROBB ~










































































Sunday, April 15, 2012

Kisah Cinta Masa Kecil





Namanya, Faisol. Hingga kini, aku masih saja mengingat bagaimana kedekatan kami ketika itu. Aku pernah mengunjungi rumahnya, dulu. Bermain bersama. Itu ketika kami masih kecil.





Saat itu, aku masih duduk di bangku kelas 4 SD dan Faisol (atau yang sering kupanggil Abang) duduk di bangku 6 SD. Usia kami berbeda 2 tahun, tapi aku dan dia sudah merasa sangat kenal. Saat itu, kami masih kecil.





Dia pernah mengatakan padaku bahwa dia akan melindungiku selamanya. Bahkan, dia pernah mencium pipiku tanpa sungkan. Mungkin, itu adalah tanda sayangnya padaku. Tapi, itu ketika kami masih kecil dulu.





Satu hal yang paling kuingat adalah, satu kejadian yang sering membuatku tersenyum kecil. Ketika itu, aku akan pulang ke rumah. Aku yang kala itu masih kecil, masuk ke kamarnya dan bercengkerama sebentar. Dia bilang bahwa dia sayang aku dan dia akan pergi ke pondok untuk mengejar cita-citanya menjadi guru Agama. Dalam hati, aku merasa sedih. Pasti. Karena aku akan kehilangan Abang sebaik dia.





Ah. Abang, kini kamu telah bahagia bersama istrimu kini. Terkadang, aku kangen saat-saat bercanda denganmu, Bang. Saat kita bergoncengan sepeda pancal. Kamu di depan dan aku di belakang. Ingat? Kita pernah menuruni gundukan jalan dan kamu melepas setir. Hem. Pengalaman yang indah bagiku, Bang.





Tapi, itu dulu. Ketika aku masih kecil dan kamu juga masih kecil. Semoga Abang selalu bahagia dengan istri Abang di sana. Ini kisah kita, Bang. Kisah cinta masa kecil kita yang bagiku menakjubkan :).

Friday, April 13, 2012

Satu Permintaan Tertinggal







“Hai,” sapa salah satu teman priaku di pagi itu.





Kubalas sapaan itu dengan sedikit senyum dan kuberikan padanya 2 bunga melati yang kupetik tadi pagi di depan gerbang sekolahku. Walaupun aku tak terlalu paham apa alasanku memilih melati sebagai salah satu kegemaranku, aku menyukai bunga itu. Bukankah terkadang kita bisa memilih tanpa alasan?





Dia adalah sahabatku. Sebut saja namanya Ilham. Seorang pemuda yang kubilang taat beragama yang dulu pernah kukagumi. Maksudku, bukan aku kagum padanya melebihi kekagumanku pada teman pria lainnya. Namun, lebih ke rasa kagumku akan kegiatan agama yang dia lakukan. Waw!





HP-ku masih saja tidak berpendar. Itu berarti, belum ada SMS masuk padaku. Ah, sungguh sepinya bila tidak ‘wiritan’ (=baca sms-an) sebelum pelajaran dimulai.





Hari itu, sepertinya teman-temanku sedikit melupakanku. Sungguh. Aku bahkan hanya mendapatkan SMS dari satu-satunya orang yang selama ini selalu menanyakan pelajaran padaku. Ilham.





Hatiku tergelitik untuk menanyakan sesuatu yang lebih padanya. Ini aku lontarkan via SMS dengan program bonusan 100 SMS. Dia pun telah menjadi anggota CeEs-anku sejak aku pulang dari program beasiswaku beberapa bulan lalu. Inilah sedikit percakapan yang kuingat dengannya di layar HP-ku.





“Ham, kamu kok sms aku malem-malem?” tanyaku.


“Hehe. Gag boleh ta? Aku kan lagi keparat sama kamu.”


“Heish. Gag boleh ngumpat, Ham.”


“Ngumpat, ta? Keparat tuh: Kepadamu Aku Rindu Berat.”


“Preet.”





Jujur saja, aku agak asing dengan kata-kata gombal seperti itu. Mungkin saja ini adalah pengaruh hormonalku yang belum berfungsi secara sempurna. Di malam itu pulalah, dia memberi tahuku bahwa ada sesuatu yang dia ingin utarakan padaku. Mungkin kamu dapat menebaknya, tapi aku mencoba untuk tidak terlalu GR (gede rumangsa) terhadap semua sikapnya padaku.





Seingatku, peristiwa yang terjadi di keesokan harinya berlangsung sangat lama. Rasanya, waktu tidak berjalan cepat dan itu benar-benar menyiksa. Dia mengajakku untuk berbicara di sudut tempat yang sepi. Cara ini, mungkin saja terbilang romantis. Tapi, aku masih memikirkan tentang peraturan agamaku yang melarang bahwa lawan jenis (yang bukan mukhrim) dilarang berduaan karena orang ketiga adalah setan. Aku yakin, dia mengerti maksudku.





Pada intinya, dia menawarkan sesuatu yang lebih dari persahabatan. Dan aku tahu, tawaran itu dapat merusak persahabatanku dengannya. Pacar.





Aku masih ingat saat dia mengutarakannya padaku. Waktu itu, dia memakai jaket abu-abu kesukaannya, celana ¾, dan sandal berwarna hitam dikombinasi dengan hijau. Rambut keriting terlihat berkerumun di sekitar kakinya yang kuat. Aku sedikit menggodanya dan mengalihkan pembicaraan dengan mencabut rambut-rambut itu. Tentu saja aku hanya bercanda.





Aku dengan semua pemikiranku: bahwa aku akan kehilangan sahabat terbaikku bila aku menjadi pacarnya. Dan aku tak mau itu terjadi. Akupun memilih persahabatan itu dan kuharap dia mengerti.





Rupanya keputusanku –kurasa– tepat. Faktanya, dia dan aku kini tidak dalam hubungan lebih dari sahabatan. Pertemanan kami sama seperti dulu. Sayangnya, aku tak dapat bertanya macam-macam layaknya pertanyaan pada seorang teman. Pertemanan kami serasa terhalang tembok. Tembok yang aku tak tahu apa itu. Sapaan yang biasanya dia lontarkan, kini tak lagi ada. Semua nasihat yang selalu dia ingatkan padaku, kemana ‘mereka’ itu?





Ilham, bila suatu saat curahan hatiku ini tersampaikan padamu, aku hanya ingin katakan rasa terima kasihku atas pertemanan yang pernah kamu beri. Atas semua senyum hangat yang selalu tercurah. Dan atas kehadiranmu setiap kubutuhkan.





Aku ingin kamu tahu, bahwa aku merindukan pertemanan kita yang dulu. Pertemanan tanpa ada rahasia, yang saling mendukung, dan selalu menguatkan. Kamu tahu? Kamu menjadi bagian terpenting dalam sejarah hidupku.





Dan -inilah satu permintaanku yang masih tertinggal-:



"Kembalilah seperti dulu. Saat tak ada lagi tembok penghalang di antara kita. Karena kamu selalu kuanggap Sahabat Sejatiku yang Lebih dari Sekedar Bintang" #Lyla.














Dikarang oleh Imajinasi sok Puitis, 2011


Friday, March 30, 2012

Kisah Mantan







Seperti biasanya, aku sedang duduk di samping taman depan kelasku ketika aku melihatnya bersama pacar barunya. Ya, dia mantanku. Mantan yang telah memberikan banyak pelajaran hidup padaku. Sungguh, aku sangat berterima kasih padanya.





Sahabatku, Lusi, melihatku tengah menengok ke arah mantan dan pacar barunya. Lusi, menghampiriku dengan candaan kecil dan menggodaku. Aku menoleh sebentar dan tersenyum kecil. Dia menanyakan padaku apakan aku menyesal pernah mengatakan kata ‘putus’ padanya. Hem, sungguh, hati dan ucapanku berkata serempak dengan jawaban ‘tidak’.





Ya, dia memang baik, namun ada hal baik yang tak harus berjalan dengan baik, bukan. Aku rasa, yang terbaik untukku adalah tidak menyesali apapun yang terjadi pada kami. Hidup adalah pilihan dan semoga ini adalah pilihan yang tepat.





Aku merasa sedikit bersalah pada mantanku itu. Mungkin, selama menjadi teman dekatnya dulu, aku belum bisa memberinya kebahagiaan. Selalu saja membuatnya kesal. Huufft. Maafkan aku, Mas Mantan.





Sudahlah. Bukankah aku telah bertekad untuk tidak lagi mengusik hari-hari bahagianya bersama Mbak Pacar Barunya?





Hari itu, aku bertemu dengan pacar barunya di kantin sekolah. Aku menyapanya dan aku benar-benar tak bermaksud apapun. Bahkan, aku tak pernah terlintas di pikiranku bahwa dia adalah pacar mantanku. Yang aku tahu, dia adalah pacar teman baikku. Aku duduk di sampingnya. Dan di tengah-tengah pembicaraan kami, aku mengatakan padanya bahwa aku sangat senang dia berpacaran dengan teman baikku yang dulu pacarku. Dan aku berharap, bila Tuhan mengijinkannya menjadi jodoh teman baikku itu.





Wajahnya sedikit keheranan. Dia bertanya padaku mengapa aku bisa terlihat sangat santai membicarakan pacarnya yang dulu pacarku. Aku dengan senyum kecil mengatakan, bahwa memang tak ada lagi yang mengganjal dalam hatiku dan aku sungguh bahagia dia bersamanya.





Untuk mantanku dan pacar barunya, semoga Tuhan selalu menyayangi kalian. Semoga karunianya berupa cinta selalu menyertai perjalanan asmara kalian. Inilah doa yang bisa kupanjatkan. Aku sayang kalian, Teman Baikku. Bukan sebagai mantan pacar ataupun pacar barunya mantanku. Ya, aku telah menganggap kalian teman baikku :).




teras kelas Social,  5 Mei 2012


Tuesday, March 20, 2012

Aku, Kamu, dan Semua Gangguanmu Padaku



Aku katakan padamu bahwa aku kini mulai menikmati setiap gangguanmu padaku. Entah apa alasanku berkata padamu seperti itu. Yang jelas, aku tak lagi merasa terganggu lagi dengan semua tingkahmu. Bahkan, aku merasa kehilangan ketika sehari saja kamu tak menggangguku.





Ah. Maaf. Apa yang kukatakan padamu? Aduh. Bukankah kamu hanya menganggapku sebatas teman? Ya, aku juga menganggapmu seperti itu. Sungguh.





Mungkin, aku memang tak terlalu mengenalmu. Jelas saja, aku dan kamu baru saling dekat, bukan? Ya, aku memang belum mengenalmu.





Begini, jujur, ketika ada pesan singkat masuk ke ponselku, aku segera menyambar ponsel putihku. Membukanya dan selalu berharap bahwa itu pesan darimu. Ketika kutahu itu bukan pesan darimu, aku akan mengetikkannya dengan kecepatan standart dan tanpa ekspresi apapun. Mungkin hanya tersenyum bila pesan itu benar-benar lucu. Namun, ketika itu adalah pesan darimu, aku akan selalu tersenyum. Bahkan ketika pesan itu hanya sebuah sapaan, ‘lagi apa?’.





Aku pernah berharap bahwa pertanyaan yang kamu lontarkan padaku dapat kamu ganti suatu saat. Ya, kamu sering menanyakan padaku, ‘sedang apa?’, bukan? Bagaimana bila pertanyaan itu kamu ganti dengan, ‘apa kamu mau menemaniku malam ini? Aku ingin mendengar kabarmu’.





Sekali lagi, aku memang belum mengenalmu. Aku tidak pernah tahu apa pesan yang kamu kirimkan pada kawan-kawan perempuanmu, tentu saja selain aku. Apa mungkin apa yang kamu kirimkan pada mereka sama dengan apa yang kamu kirimkan padaku? Ah. Aku cemburu.





Aduh. Aku cemburu? Aku cemburu pada siapa dan untuk apa? Ya, aku cemburu padamu. Tapi, entah untuk apa. Yang jelas, aku cemburu, walaupun kamu tidak pernah menganggapku apapun di hatimu.





Tentang gangguanmu, kuharap itu akan selalu ada untukku. Ya, walau hanya sebatas gangguan kecil, kuharap suatu saat itu bisa berubah menjadi perhatian. Ah. Apa aku sedang jatuh cinta padamu? Sudahlah. Aku tak ingin merusak pertemanan kita dengan terlalu banyak berkhayal tentang hubungan kita ini.





Aku cemburu. Aku cemburu dengan gangguan yang mungkin juga kamu berikan pada perempuan lainnya. Ya, aku memang cemburu. Tapi, untuk apa?

Thursday, March 15, 2012

Kisah Secret Admirer





Mungkin, menyayangi seseorang yang belum pernah kukenal, adalah kesalahan besar. Dengan alasan apapun, terutama karena alasan bahwa dia mirip dengan pangeran mimpiku saban hari. Aduh. Segila apa otakku ini hingga aku terus memikirkan orang yang sudah jelas tak mengenalku.





Sudahlah, yang jelas aku harus menyerah untuk menjadi pengintai rahasianya sejak hari ini. Pertama, aku merasa sudah kalah start dengan wanita-wanita lain yang lebih dulu mengenalnya. Sudah pasti, aku kalah telak untuk mendapatkan sekedar perhatiannya. Kedua, mungkin bila aku terus memaksakan ingin mengetahui siapa dia, aku akan dianggap wanita agresif dan aku tak mau dia menganggap itu. Ketiga, alasanku untuk menjadi secret admirer-nya kurasa terlalu kekanak-kanakkan. Jadi, aku tak ingin terus menerus bermimpi untuk mendapatkan sesuatu yang, sudah jelas, aku tak akan pernah mendapatkannya.





Beberapa hari yang lalu, aku memberi tahu kawanku tentang salah satu miliknya yang kubanggakan: personal blog-nya. Aku membukanya lewat ponsel salah satu kawanku. Tersenyum sesaat dan kami begitu mendalami semua karakter yang dia bangun dalam setiap tulisannya. Ah.





Sesuai keputusanku dan kawanku, aku mencoba untuk menyapanya dalam modus standart only. Memang aku tak menyapanya lewat dinding profil-nya karena aku tak pernah berharap sapaanku dibalas. Jadi, kukirim saja sapaanku melalui inbox. Dan rupanya Tuhan masih mengasihiku dan menyuruhnya untuk membalas inbox dariku. Em, waw.





Aku telah memikirkan ini beberapa saat. Kurasa, aku tak ingin terus hidup dalam dunia imajinasi yang tak pernah menjadi kenyataan: berharap bertemu dengannya, ingin menyimpan semua artikelnya, menjadi pengunjung tetap blog pribadinya, atau hal lainnya. Ya, aku tak ingin terus hidup dalam imajinasi yang sangat fiksi ini.





Hem, ya. Aku tak akan pernah bisa bertemu dengannya. Dalam hati, aku selalu mengatakan: ‘Apa tujuanku terus memikirkan dan mengkhayalkan pertemuan dengan orang yang tak pernah mengenalku? Bahkan, bila aku tak menjadi penggemarnya pun, tak ada yang berbeda dari hidupnya dan dia akan sangat baik-baik saja tanpa penggemar sepertiku’.





Well, untuk salah satu inspirasiku yang memiliki kemampuan menulis tingkat dewa, aku memutuskan untuk menjadi pengunjung normal di blog pribadimu. Em, bila kamu berpikir bahwa aku ini sedikit aneh, em yah, aku aneh. Aku aneh karena aku pernah berfikir untuk menjadi penggemar rahasia pria baik sepertimu.

Tuesday, March 6, 2012

Jaket Putih Itu...





Hari ini, aku melihatmu memakai jaket putih kesukaanmu. Persis seperti apa yang kamu kenakan kemarin. Berjalan seperti biasanya dengan tangan di dalam saku dan langkah yang tegap. Jujur. Kamu terlihat keren dan aku suka caramu. Caramu melakukan apapun: berbicara, tertawa, berjalan, semuanya.





Ada yang aneh dengan perasaanku. Memang aku tak berhak untuk menentukan kamu harus bergaul dengan siapa, secara aku bukanlah apapun di hatimu bahkan mungkin aku hanya kamu anggap sebagai kenalan saja, bukan? Nyesek.





Aku masih duduk di sini ketika kamu lewat di depanku. Aku memang berada di pembicaraan kawanku mengenai seorang kawan, namun pikiranku tidak terfokus dalam pembicaraan itu. Mungkin, pikiranku tengah menangkapmu kini. Malu.





Seorang kawanku merasa tidak enak badan hari ini. Dua hari yang lalu, dia sempat ijin untuk check kesehatan di poliklinik dekat sekolahku. Mungkin, try out yang berulang-ulang ini membuatnya sedikit lelah. ‘Yah, semoga cepat sembuh kawan,’ doaku dalam hati.





Mr. Sam sedang memberi pencerahan saat pandanganku tak lagi terfokus pada apa yang terjadi. Beberapa kali aku menoleh ke arah Nestie di samping kananku. Berharap dengan tolehan itu, aku bisa melihat senyum khas-mu. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Ah, aku tidak bosan.





Tolehan ketiga kali ini benar-benar membuatku sedikit merasa envy dengan kawanku yang sedang tidak enak badan tadi. Hei! Apa yang kamu lakukan? Kamu meminjaminya jaket kesayanganmu? Ah!





Aku iri. Aku ingin berada di posisi kawanku itu. Merasakan hangatnya jaket yang selalu kamu gunakan. Aku sungguh menginginkannya.





Kamu! Kamu tidak benar-benar sakit, bukan? Kamu hanya ingin mencari perhatiannya, bukan? Kamu juga mencintainya? Katakan saja. Aku tak marah. Aku, aku marah.





Aku tak tahu bila pada akhirnya, jaket putihmu itu menjadi penyebab kehilangan konsentrasiku kali ini. Tapi, apa aku berhak cemburu padamu? Kita memang pernah dekat, tapi itu dulu. Dulu sekali saat zaman edo, mungkin.





Sebenarnya, satu pertanyaan yang sering muncul dalam benakku adalah: ‘mengapa kita sekarang berjauhan? Seakan ada pembatas di antara kita. Apa batas bernama rahasia itu yang menghalangi kita?’





Jujur. Aku tak tahu apa yang terjadi padamu hingga pertemanan kita seakan hilang begitu saja. Kamu tahu, sebenarnya aku berencana mengungkapkan perasaanku padamu setelah kelulusan nanti. Tapi, apa kamu masih akan mendengarnya? Ah. Sudahlah. Aku tak akan mengatakannya padamu. Aku tahu bila kamu telah memiliki wanita idaman yang tak kutahu siapa itu. Apa mungkin wanita yang sedang tidak enak badan itu? Hem.





Aku masih menjadi penggemar rahasiamu. Kamu memang tak pernah memperhatikan bahwa ada yang memperhatikanmu selama ini: aku. Mungkin, suatu saat kamu akan mengingatku walaupun hanya sekali, namun kuharap ketika itu, kamu mengingatku bahwa aku pernah memperhatikanmu sepenuh hati.

Sunday, March 4, 2012

Aku, Dia, dan Setitik Kepercayaan





Kawanku, Linda, pernah memberitahuku bahwa ia selalu mempercayaiku. Akupun begitu, mempercayainya sebagai diary hidup yang tak dapat dibuka selain aku. Aku tak ingin persahabatanku dengan Linda berakhir dengan peristiwa yang tidak diinginkan. Jadi, aku berjanji untuk menjaganya hingga suatu hari dia harus memulai kehidupannya tanpaku.





Kurasa, semua kejadian yang terjadi padaku, dia tahu. Dan akupun begitu. Pernah suatu ketika, aku melihatnya sangat murung di bangku-nya. Seingatku, itu pelajaran Miss Sarah. Aku melihatnya selintas dan ketika dia menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya, kucoba untuk melempar senyum padanya, mengatakan bahwa: ‘Semua akan baik-baik saja, Linda. Cobalah tersenyum.”





Aku menghapirinya ketika jam istirahat pertama tiba. Aku membelikannya sebatang coklat murah yang tersedia di kantin sekolah. Bukan maksudku untuk membelikannya yang murahan, namun yang tersedia di kantin hanyalah coklat murah itu. Seperti yang pernah kubaca bahwa coklat dapat sedikit membantu memperbaiki mood seseorang. Apa itu berhasil padamu, Linda?





Aku menanyakan apa yang terjadi padanya. Dia sebenarnya sedikit ragu mengatakan ini padaku. Namun, aku sangat senang ketika akhirnya ia berterus terang padaku. Ini tentang kepercayaan. Kepercayaan pada diri sendiri.





Baik aku ataupun Linda adalah siswa kelas akhir yang akan mengambil keputusan menentukan universitas tujuan kami. Kedua orang tua Linda menyuruhnya untuk mengambil kedokteran pada jalur undangan yang ditawarkan oleh pemerintah. Dia merasa sangat tidak mampu untuk mengambil jurusan itu dan aku melihat semangatnya berada pada titik lembah.





Aku tak bisa mengatakan banyak hal karena aku terlanjur patah hati pada jurusan kedokteran. Em, sudahlah. Saat itu, aku hanya mengatakan bahwa dia akan baik-baik saja ketika harus mengambil jurusan kedokteran. Aku pun mengatakan bila dia mengambil kedokteran pada jalur tersebut, itu berarti dia memiliki 3 kesempatan untuk memasuki jurusan itu (undangan, tulis, dan mandiri). Ketika aku mengatakan itu, dengan segera dia mengatakan bahwa dia tidak akan sanggup.





Namun, entah karena alasan apa, aku ingin dia berhasil di kedokteran. Setidaknya, dia mewujudkan salah satu impian kecilku itu. Jadi, aku katakan saja bahwa tak banyak orang tua yang mengijinkan anaknya untuk masuk di kedokteran. Banyak yang ingin berada di posisinya. Linda sayang, ketika kamu tanyakan pada dirimu mengenai kemampuanmu, kamu mungkin akan mengatakan ‘aku tidak bisa’. Tapi, bila aku yakin kamu bisa, mengapa kamu harus mengecilkan kemungkinanmu untuk berhasil di bidang itu?





Jadi, untuk Linda, sahabat baikku. Aku yakin kamu bisa melakukan yang terbaik. Pilihlah dari hati nuranimu dan jangan memilih dengan emosi. Kamu tahu, banyak orang yang ingin berada di posisimu. Em, well, syukuri apa yang kamu dapat sekarang, Linda :).

Tuesday, February 28, 2012

Hei, Kamu, Bisakah Aku Mengenalmu?





Nestie, please, untuk yang satu ini, kuharap hanya antara aku dan kamu.





Kamu tentu tahu bahwa aku adalah orang yang sulit untuk menaruh kepercayaan pada seorang pria. Bagiku, semua pria itu sama saja: memandang wanita dari tampangnya, memilih game daripada kekasihnya, atau lebih parahnya lagi, mayoritas pria adalah maniak sensualitas. Tentu saja ada pengecualian. Jujur, aku tak tahu mengapa pria-pria (yang kuceritakan di atas) dapat memiliki pikiran-pikiran kotor mengenai wanita atau hal-hal lain yang tidak pantas diucapkan. Bahkan, aku pernah mendengar kawan-kawanku menceritakan tentang daerah intim para wanita. Ya Tuhan!





Tapi, Nestie. Pria yang satu ini berbeda. Aku telah melihat sedikit profilnya di biodata salah satu jejaring social. Dan kamu tahu, kurasa dia bukan salah satu dari criteria pria yang kuceritakan di atas. Dia sosok yang religius, Nes. Sebenarnya, aku memang belum terlalu tahu siapa dia. Tapi, aku sepertinya tahu bagaimana karakternya dari semua yang dia tulis melalui salah satu blog pribadinya. Well, kesimpulanku: dia adalah pria baik-baik yang saleh. Dan aku kagum pada kesan pertama (bukan pandangan pertama).





Beberapa hari yang lalu, aku telah mengirimkan permintaan pertemanan padanya dan aku tersenyum girang begitu tahu bahwa dia menerima permintaanku itu. Satu hal yang aku pikirkan adalah: aku harus berkenalan dengannya. Tapi, sepertinya dia pria yang dingin atau mungkin terlalu sibuk. Jadi, kuputuskan niatku dan aku hanya melihat-lihat kiriman di dindingnya. Hampir seluruhnya.





Mungkin, aku harus sedikit bersyukur karena aku mengurungkan niatku untuk berkenalan dengannya. Dari hasil ‘pengintaian’ku di dindingnya, jelas sekali bahwa dia sering tidak membalas sapaan ataupun inbox. Ya, itu adalah sedikit kesan yang kudapatkan. Sekali lagi, mungkin dia adalah pria yang dingin atau terlalu sibuk, ya?





Ffiuh. Untunglah aku tidak segera menerornya dengan segudang pesan di inbox ataupun di dindingnya dengan kalimat: “Leh nal, gag?” atau “TFR. Cp di sana?” atau mungkin dengan gaya 4L4Y yang bagi sebagian orang adalah bentuk gaul (yang sangat berlebihan) “Kk, L3H N4L, 64K? M4K4ciiH c07f12mny4, Y4ch”. Mungkin, bila itu sempat kulakukan, mungkin dia akan membatin, “nih cewek agresif banget, ya?” atau “males gilak bales inbox dia” atau komentar paling singkat “jijik!”.





Well, kalau kamu bertanya alasanku me-request pertemanan itu karena aku ingin tahu statusnya yang penuh motivasi. Dan tujuan utamanya adalah aku berniat menjadi secret admirer-nya. Just it, Nestie. Sebenarnya, harapanku adalah pertemuan bak sinetron: bertemu di kampus, bukuku jatuh. Dia ngambil, aku ngambil. Dia bengong, aku bengong. Dan sama-sama terbengong. Akhirnya, saling kenalan, deh.





Sudahlah. Intinya, aku kini secret admirer pria itu, Nestie. Jadi, kumohon, jangan ceritakan ini pada siapapun. Termasuk pada Teddy Bear pemberianku tahun lalu. Atau pada Michael, Pacarmu. Setahuku, bila dia sampai tahu, dia akan menceritakan ini pada gang-nya dan aku tak mau itu sampai terjadi. So, Nestie, ini rahasia kita, ya.





Kamar Nestie, Februari 2012

Sunday, February 26, 2012

Aku dan Kisah Secangkir Kopi


(Satu Jam Menulis Serentak Milad FLP)







Sebenarnya, hari ini aku tidak berniat untuk melakukan browsing selama 3 jam penuh untuk membaca sebuah blog yang baru pertama kali kutemui. Ini bukan kisah mengenai blog itu. Ini kisah tentang mimpi anehku beberapa hari lalu.




Dalam mimpiku itu, aku bertemu dengan seorang pria yang bisa kubilang ‘subhanallah’. Mungkin aku akan sangat aneh bila aku terus memikirkan sosok pria dalam mimpiku itu. Pria yang belum pernah kutemui selama ini. Tapi, sangat tampak jelas dalam mimpiku.





Satu hal yang paling kuingat adalah, dia pria yang sabar. Sesaat setelah aku terbangun dari tidurku pagi itu, aku sedikit menyesal dan bertanya, ‘apa aku bisa bertemu dengan pria itu di mimpi yang berbeda?’. Ah, bunga mimpi tak mungkin mampir untuk kedua kalinya, bukan.





Aku sedikit penasaran tentang pria itu. Kukorek ingatanku dan jawabannya adalah nihil. Aku memang tak pernah mengenal wajah pria dalam mimpiku itu. Seingatku, pria itu adalah pria Jogja pecinta kopi.





Mungkin, ini sebuah kebetulan belaka. Hari ini, aku sedang membaca sebuah blog. Aku ingat dengan jelas alamat blog itu. Aku sudah membukanya beberapa kali di hari ini. Ah, blog itu benar-benar membuatku teringat dengan pria dalam mimpiku itu. Apalagi, ketika aku tahu bila dia telah menjadi follower blog-ku. Mak serr.






Blog itu adalah milik seorang pria. Ya, pria. Pecinta kopi dan tinggal di Jogja. Benar. Aku tak berbohong padamu tentang ini, Nestie. Aku tersenyum simpul saat membuka facebook pemilik akun blog itu.





Tapi, bukankah bunga mimpi hanya datang sekali?





Ya, Nestie, ‘Kopi itu pahit, namun bila kamu tambahkan kopi itu dengan gula dan sedikit creamer pasti rasanya akan manis. Sama seperti hidup, bukan?’.





Nestie, mungkin, untuk sementara kamu lupakan sakit maag-mu dulu dan rasakan kenikmatan kopi sekali saja. Pasti kamu akan segera mengatakan, ‘Aku baru tahu bahwa secangkir kopi, gula, dan creamer akan menghasilkan paduan yang nikmat’. Trust me, Nestie.





pembicaraanku dengan Nestie, 26 Februari 2012, 08:00









xxx